Tidak Berselimut Manja

 
(Pengungsi Rohingya membawa bantuan dekat kamp pengungsi Balukhali, Cox's Bazar, Bangladesh, Senin (23/10/2017). Foto/Reuter-sindonews.com)


Pesan dalam fakta yang menyakitkan. Selimut yang tidak bertuah mengalungkan nasib mereka. Berbasuh kesedihan dan keratapan dengan keyakinannya. Agama bagaikan kunci yang harus selalu dipegang erat mereka, meskipun banyak jiwa telah melayang dan terluka. Namun, jeritan sakit itu akan ada imbalannya dari Sang Pencipta, yaitu surga bagi mereka. 

Ada beberapa masyarakat Myanmar yang pernah tinggal di Rohingya  dalam beberapa generasi. Suatu hal yang diingat Myanmar, tapi sayang tidak ada aroma harum di benak mereka . Hati-hati mereka seperti membeku saat mendengar Agama Muslim. Melebihi kerasnya batu, batu bisa hancur dengan terjangan air, namun ini sebaliknya. Pemahaman Rohingya bagaikan lautan buih bagi Myammar. Bahkan, bagi Myammar itu merupakan batu sandungan. Dikutip dari sindonews.com Kepala Badan Kemanusiaan PBB Mark Lowcock mengatakan bahwa PBB telah mengajukan dana USD434 juta untuk bantuan bagi 1,2 juta orang selama enam bulan. 

Agama yang dianut seperti bara api yang harus selalu dipegang. Kekokohan iman mereka terhadap agamanya dapat diacungi jempol. Nyawa melayang mereka tetap teguh berada di dalam keyakinannya. Rintihan menghadang, namun bibir mereka terus mengucapkan kalimat tauhid.

Kini pemerintah Myanmar jelas mencerminkan ketidaksukaannya dengan Muslim Rohingya. Bangladesh menjadi kewalahan dengan kedatangan para pengungsi. Jika penduduk Rohingya kembali ke tempat asal, akan terasa percuma saja sebab tanah dan tanaman mereka telah di jual oleh Myanmar. Lalu  Kemana lagi tempat bernafas bagi kaum ini? Suara tangis mereka merintih kesakitan dengan siksaan itu. Dunia terasa sempit, namun tidak ada pilihan lain kalau bukan bertahan. Bertahan dengan terjangan yang terus menerpa. Tempat tinggal dan nyawa telah hilang, namun ada satu rumah yang akan tetap ada, yaitu Islam di dalam hati mereka.


Meskipun bukti surat kepemilikan tanah  ada di pegang oleh Ahmed salah satu pengungsi, sayangnya Myanmar tidak menggangapnya sebagai warga negara. Tumpukkan kertas yang percuma saja di bawanya. Apalagi yang tidak membawa surat bukti tidak berefek sama sekali bagi Myanmar. Terjangan demi terjanggan menyapu mereka. Hilangnya nyawa merupakan taruhannya. Kaki-kaki pun harus melewati perjalanan jauh untuk meyelamatkan jiwa yang berkabut ketakutan.

Tempat baru ini (Bangladesh) menjadi saksi atas hijrah itu akan tetapi, kedatangan penduduk membuat tuan rumah menjadi kelelahan menerima mereka. Kak-kaki itu tidak tahu arah lagi, hanya ingin menyelamatkan diri dari kepahitan yang dirasakan. Lingkungan tidak berselimut manja dengan mereka. Puluhan orang membenci, namun ratusan orang menyayangi mereka. Musibah bagi mereka adalah goresan luka bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Luka mampu sembuh, namun sakit tidak bisa dilupakan, sejarah pun menuliskan kisah ini. Kisah yang akan selalu abadi dan menjadi pelajaran besar bagi ummat.

Referensi: https://international.sindonews.com/read/1251215/40/pengungsi-rohingya-capai-sejuta-jiwa-bangladesh-kewalahan-1508832414/11


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cari yang Gelap

Datang, Pilih, Beli...Simpelkan?