Terima Kasih




Penulis: Rahmyati
Gerumuh kereta bersautan di pagi ini. Mataku masih terasa redup dan nyawaku masih ingin berbaring.  Tidak ada pilihan selain berada dikehidupan yang sibuk ini. Iya, itulah kehidupan sebagai mahasiswa. Semua mahasiswa duduk dengan manis, menunggu pemanis yang menjadi semangat pagi itu. Kuarahkan pandanganku kepada salah satu titik fokus yang menjadi perhatian publik, yaitu pintu keluar Stasiun Universitas Indonesia. Di sanalah Mahasiswa semua bergerombolan mendekati tempat-tempat penungguan bis kuning (bikun) dan bis politeknik (bipol). 
Penampilan mahasiswa pada pagi ini masih terlihat sangat rapi dan segar. Buku-buku tebal dipeluk erat oleh mereka. Laptop dipegang kuat oleh tangan mereka. Terlihat sudah seperti mau bertarung dengan membawa senjata siaganya. Kaki-kaki berdiri tegak sambil menunggu penantian. Iya, hari itu cerita baru akan dimulai. Lembaran baru akan tertulis dengan sendirinya dan takdir di hari ini tidak dapat ditolak terkecuali oleh pertolongan-Nya. Begitu pula denganku, ingin sekali pulang lalu berbaring. Apalah dayaku, jika raga sudah ditempat tersebut.
Bipol datang, aku bergegas mengambil tempat paling depan. Semua mahasiswa saling berebut tanpa pamrih. Tak ada belas kasihan pada saat itu karena perjuangan untuk mendapatkan bipol seperti merebut emas ditengah lautan. Sungguh lelah dan letih saat perebutan tersebut. Bapak supir bipol sudah terbiasa dengan kerumuhan yang dilakukan oleh mahasiswa politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Tak ada daya padanya, bapak bipol hanya mampu berdiam berkening dengan kelakukan kami. 
Bipol pun berjalan melaju menelusuri jalan-jalan yang tersedia. 

Diperjalanan kumelihat semua mahasiswa mulai berdatangan, pagi itu semua memiliki kesibukannya masing-masing. Begitu pula kepada mahasiswa yang berada dibipol. Mungkin dianatara kami ada yang sedang pusing dengan tugas, namun ada pula yang sedang santai dengan tugasnya. Hampir setiap pagi aku berpikir demikian samanya. Entah, kenapa aku banyak memikirkan seseorang yang ada disekelilingku, padahal mereka belum tentu memikirkan yang ada disekeklilingnya. Entah, kenapa saat berpikir seperti itu, aku lebih nyaman dibanding berpikir tentang masalah-masalah yang ada. Hikmah yang kuambil dari pikiran tersebut membuatku banyak berkaca dari kesalahan-kesalahanku. Lisan yang tak sempat berterima kasih atas kedatangannya (masalah).
Datang menyapa kehidupan lalu pergi dengan sejuta kesedihan, itulah masalah. Tanpa sadar, ternyata bipol telah sampai pada tujuannya. Semua meninggalkan bipol, ucapan terima kasih dari mahasiswa terus terlontar ketika hendak turun. Bipol pun menjadi sepi, tak tersisa terkecuali hanya bapak supir yang berjasa kepada kami. Kami menjauhi bipol dengan penuh ketidak peduliaan. Ucapan itu hanya tersirat dilisan, namun tak bergerak dihati. Ucapan itu akan terus berulang dan berputar bagaikan jarum jam. Begitulah kehidupan, semua akan terasa sama dan berulang. Lalu bagaimana dengan Allah yang begitu Maha Baik mengurusi makhluknya? sedangkan kami jarang berteima kasih pada-Nya. Iya, itulah manusia tak sadar bahwa ada yang lebih Maha Penolong
.
Kumelangkah ke arah kantin, jalan masih sangat sepi. Ternyata dikantin lebih sepi.  Semua penjual baru saja berbenah dengan warungnya. Kucoba duduk sebentar dibangku makan, melihat sekeliling kantin yang biasa dipenuhi oleh mahasiswa. Beginilah kedaanya jika tak ada yang berkunjung, sunyi dan sepi. Sepi membuatku tenang dengan kesunyiaannya. Damai berbisik menyelimutiku pagi itu, rasanya aku ingin tetap kehidupan kampus yang sesunyi ini. Aku pandangi semua penjual membenahi warungnya masing-masing. Aku coba mendekati salah satu penjual, namun belum tersedia makanan yang kupinta. Meskipun demikian, kutetap ucapkan terima kasih kepada penjualnya.
Tidak ada makanan yang kudapati pagi itu. Lalu aku coba ke kantin Administrasi Niaga. Mahasiswa sudah ramai ditempat duduk yang berada di taman. Keramaian kembali mendatangi kehidupan kampus ini. Berbisik ditelingaku suara-suara mahasiswa, aku kembali fokus dengan apa yang kuinginkan di kantin tersebut. Aku pilih beberapa makanan untuk menjanggal perutku hingga siang. Canda, tawa dan senyum terhias diwajah-wajah mahasiswa di pagi ini. Semua menebarkan auranya masing-masing. Entah, siapa diantara mereka yang sedang sedih tapi ditutupi. Entah, siapa diantara mereka yang sedang senang tapi juga ditutupi. Entah, memang lebih baiknya demikian, menutupi segalanya walaupun terasa ingin ditebarkan. Tangan-tangan satu per satu mendekat kepada penjual. Ucapan terima kasih terdengar lagi padaku.
Kata terima kasih seperti kata yang tak bisa ditinggal dan dilupakan. Semua terasa wajib menyampaikannya walaupun jawaban tak semanis yang diinginkan. Sekecil apapun jasa seseorang semua harus dibayar dengan ucapan tersebut termasuk kesalahan yang diberikan. Aku kembali kepada jurusanku, kutelusuri jalan demi setapak. Masih sepi, padahal tadi kubaru saja bertemu dengan keramaian. Langkah ini kuperkuat saat hendak menaiki anak tangga. Hingga aku berada pada lantai tujuan. Aku mengambil tempat duduk, menghela nafas yang terasa berat. Belum begitu banyak kehadiran mahasiswa dikala itu. Aku mencoba berpikir di dalam kesunyiaan yang masih terasa. Ucapan terima kasih di pagi ini sering sekali kudengar bahkan setiap waktu terus berulang. Begitu pula kehidupan, semua manusia akan kembali kepada kehidupannya masing-masing. Kesibukan yang dilalui mampu dilampaui dengan pertolongan-Nya. Sayangnya, tak sedikit diantara manusia mampu memberikan sedikit saja ucapan terima kasih kepada Rabb-Nya. Kesibukan dunia yang melalaikan, hingga lupa untuk apa ia diciptakan. Begitu egoisnya manusia, tak sadar ada yang lebih menolongnya. Allahu Yahdiik (semoga Allah memberimu hidayah).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cari yang Gelap

Datang, Pilih, Beli...Simpelkan?

Tidak Berselimut Manja