Kembalilah
Banyak cerita yang telah tertulis dilembar-lembar buku. Banyak pula cerita yang tergoreskan dalam setiap ucapan.
Dia-lah yang menjadikan kita mampu berdiri tegak dalam sulitnya hidup ini. Entah apa yang membuat kemampuan itu ada. Harap dan angan manusia di dunia sangat luar biasa. Impian-impian kita telah tertulis rapi di dalam lembar kertas yang tersimpan.
Di saat ambang kehancuran mendekat, siapa membuat kita dapat bertahan? Siapa yang menolong kita dalam kesulitan yang bertubi-tubi? Siapa pula yang menyelamatkan kita dari musibah yang besar?
Ada kamera yang memantau kehidupan kita, namun tidak ada yang menyadarinya. Tarikan nafas kita tidak akan selamanya bekerja. Ada masa di mana, semua berhenti bernafas dan tertidur untuk selamanya.
Dunia pada saat itu pun telah berbeda. Tidak ada teman yang menemani, terkecuali amalan yang ada disisi kita. Waktu kita sangat sebentar, kelak kita akan ditanya akan waktu-waktu itu.
Lembaran akan dibuka selebar-lebarnya. Pintu surga dan pintu neraka telah terbuka bagi penghuninya. Bahan bakar neraka sudah siap tersedia dan teriakan-teriakan rasa sakit telah terasa, padahal jasad belum di dalam.
Ibu dan ayah bagaikan tak peduli dengan anak-anaknya. Hari itu semua manusia tidak mampu menolong satu sama lain. Tidak ada yang mampu mengelak kedustaan dan kezhaliman manusia, semua akan bicara.
Sebelum ragamu berkata, kembalilah kepada hakikat kehidupan yang sesungguhnya (ibadah). Tidak ada kulit-kulit yang mendustakan pekerjaanmu selama ini. Perkataan yang tidak ingin didengar oleh diri sendiri. Hari itu, anggota tubuh mengadu dan kamu pun tidak bisa menjauhi kesalahan yang ada.

Komentar
Posting Komentar