Nasib Daim





 
 Foto: Dwi Mega Yulianingrum, Teknik Elektro-PNJ 2014
Tempat berdiri menghadap Rabb bagaikan kepedihan yang menusuk. Terasa ini bukanlah tempat yang layak.

Sujud bagaikan tusukan menyayat dinding iman. Keadaan yang tidak pernah diharapkan. Jika sudah memasuki waktu salat, semua berpaling ke sana (Masjid Darul Ilmi). Panggilan suara adzan mengerakkan kaki-kaki manusia untuk berdiri dan sujud di dalamnya. Bertumpuh sujud untuk melaksanakan kewajiban yang harus dikerjakan. Meninggalkan amanah-amanah dunia sejenak dan  memalingkan hati untuk khusyuk.

Terdapat tempat buku yang menjadi manjaanya mahasiswa. Tersedia pula mukena-mukena yang tergantung di lemari. Orden kecil menutupi pandangan mata, lalu lampu menghiasi langit-langit masjid. Sayangnya, hanya satu shaf saja yang digelari oleh sajadah.

Semakin hari berganti, entah lari kemana mukena dan buku yang ada di lemari.  Semua terasa berbeda, perubahan terjadi pada keadaan masjid. Perubahan yang seharusnya menjadi baik tapi kini malah sebaliknya. Sedih berguncang saat memandangi keadaan yang miris tersebut.

“Dulu, ya agak rapian daripada sekarang yang bener-bener acak-acakan. Terus dulu juga suka ada alumni pagi-pagi ambil mukena untuk di laundry jadi, mukena lumayan sering. Lalu ruangan deket tempat wudhu akhawat juga rapian pas awal masuk kuliah aku daripada terakhir, di kampus parah pisan ya Allah, liatnya aku miris,” jawab Arini Dayu Ramadhan selaku alumni jurusan Akuntansi PNJ 2014.

“Kerapiannya semakin menurun sama letak lemari saja yang berubah dan buku-buku pada hilang.” ujarnya lagi.

Semua manusia sangat ingin diperhatikan dan disanjung. Ketika sudah didapatkan, mereka lupa akan daratannya. Seharusnya mahasiswa mau memperhatikan yang tidak bernyawa itu (masjid), namun tidak ada yang sadar. Memang manusia itu sulit peduli dengan apa yang ada, sehingga sampai tidak mau tahu kondisi itu. Padahal Masjid ini juga membutuhkan perhatian dari para pemilik hati.

Semua kembali kepada kesadaran masing-masing. Dengan demikian, perlu kerja sama membantu membenahi masjid tersebut. Siapa lagi yang bisa membersihkan kalau bukan pemilik rumah.

“Lebih peduli sedikit saja. Kalau sudah pakai mukena dilipet yang rapi atau digantung yang bener. Kalau ada mukena jatuh dibenerin jangan dibiarin. Ini note to my self (ntms) juga yang terakhir. Biar nyaman, dibersihin bareng-bareng  atau kalau mau bayar marbot saja buat bersihin daim, kalau emang nggak mau turun tangan,” jawab Arini.

Berbanding terbalik dengan tetangga, Masjid Ukhuwah Islamiyah-UI terjaga sekali kebersihannya. Tidaklah salah jika membandingkan dua masjid ini. Contoh yang seharusnya bisa diterapkan di Daim. Namun, semua butuh kesadaran lagi.

“Coba liat MUI sebelah kita, itu ada petugas banyak yang merapikan dan membersihkan. Mulai dari tempat wudhu, kamar mandi, vacuum sajadah, laundry mukena dan sajadah juga ada makanya MUI tuh nyaman banget dibanding daim,” ujarnya lagi.(Rahmyati)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cari yang Gelap

Datang, Pilih, Beli...Simpelkan?

Tidak Berselimut Manja