Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Tidak Berselimut Manja

Gambar
  (Pengungsi Rohingya membawa bantuan dekat kamp pengungsi Balukhali, Cox's Bazar, Bangladesh, Senin (23/10/2017). Foto/Reuter - sindonews.com ) Pesan dalam fakta yang menyakitkan . Selimut yang tidak bertuah me ngalungkan nasi b mereka. Berbasuh kesedihan dan keratapan dengan keyakinannya. Agama bagaikan kunci yang harus selalu dipegang erat mereka, meskipun banyak jiwa telah melayang dan terluka. Namun, jeritan sakit itu akan ada imbalannya dari Sang Pencipta, yaitu surga bagi mereka.  Ada beberapa masyarakat Mya n mar yang pernah tinggal di Rohingya  dalam beberapa generasi. Suatu hal yang diingat Myanmar, tapi sayang tidak ada aroma harum di benak mereka . Hati-hati mereka seperti membeku saat mendengar Agama Muslim. Melebihi kerasnya batu, batu bisa hancur dengan terjangan air, namun ini sebaliknya. Pemahaman Rohingya bagaikan lautan buih bagi Myammar. Bahkan, bagi Myammar itu merupakan batu sandungan. Dikutip dari sindonews.com   Kepala Bad...

Kembalilah

Gambar
Banyak cerita yang telah tertulis dilembar-lembar buku. Banyak pula cerita yang tergoreskan dalam setiap ucapan.  Dia-lah yang menjadikan kita mampu berdiri tegak dalam sulitnya hidup ini. Entah apa yang membuat kemampuan itu ada. Harap dan angan manusia di dunia sangat luar biasa. Impian-impian kita telah tertulis rapi di dalam lembar kertas yang tersimpan. Di saat ambang kehancuran mendekat, siapa membuat kita dapat bertahan? Siapa yang menolong kita dalam kesulitan yang bertubi-tubi? Siapa pula yang menyelamatkan kita dari musibah yang besar? Ada kamera yang memantau kehidupan kita, namun tidak ada yang menyadarinya. Tarikan nafas kita tidak akan selamanya bekerja. Ada masa di mana, semua berhenti bernafas dan tertidur untuk selamanya. Dunia pada saat itu pun telah berbeda. Tidak ada teman yang menemani, terkecuali amalan yang ada disisi kita. Waktu kita sangat sebentar, kelak kita akan ditanya akan waktu-waktu itu.  Lembaran akan dibuka selebar-lebarnya....

Nasib Daim

Gambar
   Foto: Dwi Mega Yulianingrum, Teknik Elektro-PNJ 2014 Tempat berdiri menghadap Rabb bagaikan kepedihan yang menusuk. Terasa ini bukanlah tempat yang layak. Sujud bagaikan tusukan menyayat dinding iman. Keadaan yang tidak pernah diharapkan. Jika sudah memasuki waktu salat, semua berpaling ke sana (Masjid Darul Ilmi). Panggilan suara adzan mengerakkan kaki-kaki manusia untuk berdiri dan sujud di dalamnya. Bertumpuh sujud untuk melaksanakan kewajiban yang harus dikerjakan. Meninggalkan amanah-amanah dunia sejenak dan  memalingkan hati untuk khusyuk. Terdapat tempat buku yang menjadi manjaanya mahasiswa. Tersedia pula mukena-mukena yang tergantung di lemari. Orden kecil menutupi pandangan mata, lalu lampu menghiasi langit-langit masjid. Sayangnya, hanya satu shaf saja yang digelari oleh sajadah. Semakin hari berganti, entah lari kemana mukena dan buku yang ada di lemari.  Semua terasa berbeda, perubahan terjadi pada keadaan masjid. Perubahan...